Pertama Kali Ke Gunung Galunggung

By DITA ROHIMA - Sunday, April 15, 2018


Pertama kali ke gunung, dan puas? Iya tapi belum. Maksudnya? Maksudnya I was so happy but really want to go there AGAIN to explore more. Because waktu kesana kemarin, datang bersama rombongan keluarga besar, jadi tau lah ya betapa rempong nya. Para anak kecil ingin berenang dan para tetua ingin segera pulang, sementara kita para muda ingin tetap terus di atas bahkan ingin turun ke kawah to explore more.

Ok so let me tell you the stories.

First, MANONJAYA – GALUNGGUNG
Dari Manonjaya (my hometown) kami pergi menggunakan mobil pribadi yang membutuhkan waktu 2-3 jam. Lumayan ya, karena kalian tahu? Jarak Manonjaya-Sukaratu yaitu hampir dari ujung ke ujung sekitar 40 km, maksudnya Manonjaya terletak di ujung timur Tasikmalaya, sementara Sukaratu ujung baratnya, nah kalau aku di hatimu haha, oke forget it.

Sepanjang perjalanan dari Manonjaya ke Tasik, mobil terus melalui jalan perkotaan so the scenery was boring, but we filled with the funny conversation to made our day. Barulah jarak beberapa kilo sebelum Galunggung, pemandangan hijau mulai terasa, dan itu menyegarkan mata. Di pintu masuk, keadaannya begitu ramai, yes because it was holiday season. Mobil mengantre cukup lama.


TAKLUKAN 620 ANAK TANGGA
Sebelumnya, let me tell you that actually I didn’t go through hiking treck like the climbers, but anak tangga, tapi jangan remehkan perjuangannya juga, ok.

Sampailah kita di tempat parkir, didn’t wait so long we’re too excited untuk naik ke kawah. Tapi ternyata jarak pintu masuk masih beberapa ratus meter dari tempat parkir. Ada dua jalur yang bias kita lalui, jalan beraspal dan tangga yang belum lama dibuat.

Melalui jalan beraspal jarak nya sedikit lebih memutar namun sedikit landai, tapi kita bisa sewa ojek atau jalan kaki. Sementara lewat tangga buatan lebih dekat namun curam dan licin. But we choose the second way.

Setelah menaiki (entah berapa puluh/ratus) anak tangga, sampai kita di loket kawah dengan keadaan ngos ngos an, but couldn’t hide the excitment of looking at the view. GREEN. But yeah no, it didn’t mean kita sudah sampai di kawah, tapi setelah bayar tiket barulah kita akan menaiki 620 anak tangga menuju kawah. Well, we didn’t have any problem at all.


EMIH, NENEK TERKUAT, SALUT!
Yeah we didn’t have any problem at first. But I swear nobody of us wasn’t ngosh ngosh an and pink faced, except one person. EMIH (Sundanese usually call our grandma as). Dia malah bilang, lumayan ngelemesin urat yang kaku. She passed all of us until kawah, and still looked fresh, and didn’t want eat or drink anything (but we forced her to) while all of us didn’t wait long time to took fresh water and some meals after with our excitement lulus dari 620 anak tangga. HORAYY.

And once again, we were so happy, excited, and grateful to God. Swear we could see the view from top (no, not top of Galunggung, but still just crater) GREEN, the clouds, I felt like they were right in front of my face or just several meters from my head. Maybe sounds NORAK, but really I was so happy to see so many big and green trees in front of my eyes, so fresh.



KAWAH, CAMPING, DAN MUSHOLA
Sesampainya di bibir kawah, ya kita menikmati pemandangan, tapi sungguh masih mengganjal, sangat. Yaitu sebenarnya I and my brother really want to go down ke kawah untuk merasakan the real Galunggung atmosphere yang pernah meletus hebat itu (1982). Tapi apalah daya, semua diminta turun ke tempat parkir untuk lanjut ke pemandian air panas.

But let me tell you guys a little, bahwa di kawah itu kita bias camping juga seperti para pendaki lain, di kawah masih ada beberapa titik genang belerang, namun sebagian besar wilayahnya sudah tidak tergenang hanya berupa pasih yang sudah ditumbuhi rerumputan.

Menariknya, ada satu titik menjorok jauh yaitu sebuah mushola, biasanya orang akan berkunjung juga ke masjid itu untuk ibadah atau berkunjung.

Katanya turun tangga ternyata lebih sulit. Mungkin ya, tapi aku gak begitu memperhatikan, karena justru sambil menuruni tangga, aku justru lebih leluasa melihat pemandangan. Buzy took photos and videos.

Sampai kembali di tangga pertama dari 620, kali ini rombongan terbagi dua, ada yang tetap turun tangga yang pertama, sementara aku dan beberapa memilih naik ojek melalui jalur aspal. No, bukan karena aku capek hellow, but aku hanya ingin tau jalannya seperti apa.

Sampai di parkiran, banyak yang bilang lututnya gemetar setelah menuruni tangga, aduhh pada kenapa ini ya. Tapi sudahlah, kita mengambil istirahat dan makan, setelah itu baru lanjut ke pemandian air panas.


HOW TO GET THERE
Dari Jakarta :
Lebak Bulus/ Kampung Rambutan, kamu bisa naik Primajasa bus jurusan Jakarta – Tasik. 6-8 jam ke terminal Indihiyang, di terminal banyak angkot dan ojek yang akan menawarkan jasa antar ke gunung galunggung, biasanya hanya sampai kaki gunung, atau ada juga  yang menawarkan untuk disampaikan ke titik awal pendakian.

HOW MUCH IT COSTS (2017)
Jakarta – Tasikmalaya (Bus Primajasa) Rp 75,000.
Tasikmalaya – Galunggung (Ojek/Angkot) Rp 20-30,000.
Tiket masuk Galunggung Rp 7,000.
Tiket masuk kawah Rp 5,000.
Tiket masuk air terjun Rp 5,000.
Tiket pemandian air panas  Rp 5,000.

Regards,
Dita Rohima

  • Share:

You Might Also Like

1 comments