Pertama kali ke gunung,
dan puas? Iya tapi belum. Maksudnya? Maksudnya I was so happy but really want to go there AGAIN to explore more.
Because waktu kesana kemarin, datang bersama rombongan keluarga besar, jadi tau lah ya betapa rempong
nya. Para anak kecil ingin berenang dan para tetua ingin segera pulang,
sementara kita para muda ingin tetap terus di atas bahkan ingin turun ke kawah to explore more.
Ok so let me tell you the
stories.
First, MANONJAYA
– GALUNGGUNG
Dari Manonjaya (my hometown) kami pergi menggunakan mobil pribadi yang membutuhkan waktu 2-3 jam. Lumayan ya, karena
kalian tahu? Jarak Manonjaya-Sukaratu yaitu hampir dari
ujung ke ujung sekitar 40 km,
maksudnya Manonjaya terletak di ujung timur Tasikmalaya, sementara Sukaratu
ujung baratnya, nah kalau aku di hatimu haha, oke forget it.
Sepanjang perjalanan
dari Manonjaya ke Tasik, mobil terus melalui jalan perkotaan so the scenery was boring, but we filled
with the funny conversation to made our day. Barulah jarak beberapa kilo sebelum Galunggung,
pemandangan hijau mulai terasa, dan itu menyegarkan mata. Di pintu masuk,
keadaannya begitu ramai, yes because it
was holiday season. Mobil mengantre cukup lama.
TAKLUKAN 620 ANAK TANGGA
Sebelumnya, let me tell you that actually I didn’t go
through hiking treck like the climbers, but anak tangga, tapi jangan remehkan perjuangannya juga,
ok.
Sampailah kita di tempat parkir, didn’t wait so long we’re too excited untuk naik ke kawah. Tapi ternyata
jarak pintu masuk masih beberapa ratus meter dari tempat
parkir. Ada dua jalur
yang bias kita lalui, jalan beraspal dan tangga yang belum lama dibuat.
Melalui jalan beraspal jarak nya sedikit lebih memutar
namun sedikit landai, tapi kita bisa sewa ojek atau jalan kaki. Sementara lewat tangga
buatan lebih dekat namun curam dan licin. But we choose the second way.
Setelah menaiki (entah berapa puluh/ratus) anak
tangga, sampai kita di loket kawah dengan keadaan ngos ngos an, but couldn’t hide the excitment
of looking at the view. GREEN.
But yeah no, it didn’t mean kita sudah sampai di kawah, tapi setelah bayar tiket
barulah kita akan menaiki 620 anak tangga menuju kawah. Well, we didn’t have any problem at all.
EMIH, NENEK TERKUAT, SALUT!
Yeah we didn’t have any
problem at first. But I swear nobody of us wasn’t ngosh ngosh an and pink faced, except one person. EMIH (Sundanese
usually call our grandma as). Dia malah bilang, lumayan ngelemesin urat
yang kaku. She passed all of us until
kawah, and still looked fresh, and didn’t
want eat or drink anything (but we forced her to) while all of us didn’t wait
long time to took fresh water and some meals after with our excitement lulus
dari 620 anak tangga. HORAYY.
And once again, we were so
happy, excited, and grateful to God. Swear we could see the view from top (no,
not top of Galunggung, but still just crater)
GREEN, the clouds, I felt like they were right in front of my face or just
several meters from my head. Maybe sounds NORAK, but really I was so happy to
see so many big and green trees in
front of my eyes, so fresh.
KAWAH, CAMPING, DAN MUSHOLA
Sesampainya di bibir kawah, ya kita menikmati
pemandangan, tapi sungguh masih mengganjal, sangat. Yaitu sebenarnya I and my brother really want to go down
ke kawah untuk merasakan the real Galunggung atmosphere yang pernah meletus
hebat itu (1982). Tapi apalah daya, semua diminta turun ke tempat parkir untuk
lanjut ke pemandian air panas.
But let me tell you guys a
little, bahwa di kawah
itu kita bias camping juga seperti para pendaki lain, di kawah masih ada
beberapa titik genang belerang, namun sebagian besar wilayahnya sudah tidak
tergenang hanya berupa pasih yang sudah ditumbuhi rerumputan.
Menariknya, ada satu titik menjorok jauh yaitu sebuah
mushola, biasanya orang
akan berkunjung juga ke masjid itu untuk ibadah atau berkunjung.
Katanya turun tangga ternyata lebih sulit. Mungkin ya, tapi aku
gak begitu memperhatikan, karena justru sambil menuruni tangga, aku justru
lebih leluasa melihat pemandangan. Buzy
took photos and videos.
Sampai kembali di tangga pertama dari 620, kali ini
rombongan terbagi dua, ada yang tetap turun tangga yang pertama, sementara aku
dan beberapa memilih naik ojek melalui jalur aspal. No, bukan karena aku capek
hellow, but aku hanya ingin tau jalannya seperti apa.
Sampai di parkiran, banyak yang bilang lututnya
gemetar setelah menuruni tangga, aduhh pada kenapa ini ya. Tapi sudahlah, kita
mengambil istirahat dan makan, setelah itu baru lanjut ke pemandian air panas.
HOW TO GET THERE
Dari Jakarta :
Lebak
Bulus/ Kampung Rambutan, kamu bisa naik Primajasa bus
jurusan Jakarta – Tasik. 6-8 jam ke terminal Indihiyang, di terminal banyak
angkot dan ojek yang akan menawarkan jasa antar ke gunung galunggung, biasanya
hanya sampai kaki gunung, atau ada juga
yang menawarkan untuk disampaikan ke titik awal pendakian.
HOW
MUCH IT COSTS (2017)
Jakarta – Tasikmalaya
(Bus Primajasa) Rp 75,000.
Tasikmalaya – Galunggung
(Ojek/Angkot) Rp 20-30,000.
Tiket masuk Galunggung Rp
7,000.
Tiket masuk kawah Rp
5,000.
Tiket masuk air terjun Rp
5,000.
Tiket pemandian air
panas Rp 5,000.
Regards,
Dita Rohima












1 comments
Wkwk
ReplyDelete